Waspadai Gejala Awal Waham Kebesaran!

Mister J uring-uringan, sebagai salah satu manager proyek Mister J merasa tersinggung ketika tidak dilibatkan dalam diskusi via email tentang suatu proyek pendidikan. Mister J beranggapan sebagai mantan seorang spesialis pendidikan Mister J harus dilibatkan dalam semua diskusi tentang proyek pendidikan. Sebagai teman Mister J, saya waktu itu masih menganggap bahwa ini adalah hal yang wajar. Yah.. Mister J juga manusia biasa yang mungkin masih dalam proses menuju kedewasaannya.

Lambat laun ternyata saya kena batunya juga. Waktu itu saya mendapatkan informasi tentang sebuah lomba di internet yaitu lomba menulis yang diselenggarakan oleh salah satu instansi pemerintah. Saya pikir ini adalah kesempatan yang baik. Siapa tahu dengan mengikuti lomba menulis ini, pemerintah mendapat masukan yang baik dari masyarakat dan kemudian menerapkannya demi menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik. Karena menurut saya lomba ini baik maka saya informasikan via email ke beberapa rekan manager termasuk Mister J. Ternyata beberapa saat kemudian datanglah balasan email dari Mister J. Kalimatnya garang. Saya dianjurkan untuk berhati-hati dan tidak mengikuti lomba ini. Menurut Mister J tidak baik kalau perusahaan dimana kami bernaung mengikuti lomba menulis ini. Kalau mengikuti lomba menulis ini berarti kita setuju dengan ideologi politik bangsa ini yang jelas-jelas tidak sesuai dengan ideologi perusahaan. Begitu kata Mister J. Karena balasan Mister J yang cepat tersebut, saya berasumsi bahwa Mister J tidak membaca lampiran email yang saya kirimkan. Asumsi saya kalau Mister J membaca lampiran email yang saya kirimkan maka ia akan menemukan bahwa lomba ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik. Ini semata-mata lomba menulis biasa yang bertujuan memberikan masukan ke pemerintah. Kemudian emailnya saya balas. Saya mencoba menanyakan ke Mister J apakah ia sudah membaca lampiran email tersebut. Saya terangkan asumsi saya tadi dengan lebih terperinci dengan bahasa yang cukup sederhana. Ternyata tak berapa lama, datang lagi email Mister J. Isinya, “Justru karena saya sudah membaca lampirannya maka saya sarankan untuk tidak mengikuti lomba ini” begitu tulisannya dalam email. Karena tidak ingin memperpanjang, saya hanya menjawab “terimakasih atas sarannya” dan akhirnya tidak ada jawaban email lagi dari Mister J.

Dalam keseharian kami bertegur sapa, ternyata saya makin menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam tutur kata Mister J. Dalam setiap diskusi ia berusaha memberikan kesan merendah namun ternyata kalau kita simak baik-baik tutur katanya, ia lebih banyak berkata-kata tentang dirinya sendiri. Ia dulu beginilah, ia dulu begitulah, ia dengan kesuksesannya sering diundang bertemu dengan gubernur, dan lain sebagainya. Intinya, semua tentang apa yang ia lakukan yang telah berhasil di masa lampau. Beberapa kali saya mencoba mengecek kebenarannya lewat rekan-rekannya yang dulu pernah bekerja sama dengan dia namun ternyata informasi yang saya dapatkan justru bertolak belakang dengan kenyataan yang coba disampaikan oleh Mister J. Akhirnya sebagai seseorang dengan latar belakang medis, saya mencoba menarik kesimpulan tentang situasi Mister J ini. Kesimpulan saya, jangan-jangan ini adalah gejala awal dirinya mengidap apa yang disebut dengan Waham Kebesaran. Apa itu Waham? Beberapa definisi berikut mungkin bisa membantu. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya (Maramis, W.F, 1995). Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan dalam kenyataan (Harold I, 1998). Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika (Ann Isaac, 2004). Kata-kata yang sering disampaikan oleh seseorang secara berulang-ulang yang tidak sesuai dengan logika, itulah yang disebut dengan Isi Waham. Isi waham sangat bergantung pada latar belakang pendidikan dan sosiokultural seseorang. Waham dikelompokkan menurut tema utamanya. Waham kebesaran (grandeur delusion) adalah suatu konsep pemikiran yang berlebihan tentang kekuatan, kepandaian, kekayaan dan identitas seseorang.

Kemudian saya mencoba menelusuri faktor-faktor apa yang bisa menyebabkan seseorang itu menderita gejala awal Waham. Ternyata ada faktor predisposisi. Faktor predisposisi ini terdiri dari faktor biologis, faktor genetik, faktor psikologis, dan sosial budaya. Faktor biologis menyangkut apakah ada gangguan perkembangan otak, apakah ada gangguan tumbuh kembang, atau apakah orang tersebut dilahirkan kembar (monozigot atau kembar dua telur). Faktor genetik adalah faktor yang diturunkan yaitu apakah ada riwayat skizofrenia dalam keluarga. Faktor psikologis terdiri dari: ibu/ pengasuh yang over protektif, dingin, dan tidak sensitif. Selain itu adanya hubungan dengan ayah yang tidak dekat atau kurang perhatian atau bisa juga mendapatkan perhatian yang berlebihan dari sang ayah. Sedangkan faktor sosial budaya terdiri dari: stress yang menumpuk, hubungan sosial yang tidak harmonis, dan kemiskinan. Selain faktor di atas, juga ada faktor lainnya seperti faktor presipitasi yang di dalamnya berisi faktor biokimia dan psikologi. Faktor biokimia memandang ada kaitannya Waham bisa muncul karena dipacu oleh zat kimia tertentu, sedangkan faktor psikologis diduga berkaitan dengan kecemasan yang ekstrim yang disertai dengan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah.

Wah..kira-kira faktor apa yang mempengaruhi Mister J ya?

Saya mencoba mendalami masa lalu Mister J. Tepatnya, masa kecilnya. Mister J ini dikenal takut sekali dengan yang namanya ikan. Konon, menurut penuturan Mister J, dirinya pernah direndam di kolam ikan oleh ibunya. Sampai sekarang Mister J tidak berani makan ikan. Saya sendiri masih agak kabur soal apa alasan ibunya merendam Mister J kecil dalam kolam ikan tersebut. Ketika ditanyakan ke Mister J, jawabannya selalu berubah-ubah. Oh iya, Mister J juga kehilangan figur ayah pada masa remajanya. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan munculnya gejala Waham Kebesaran pada Mister J. Semakin saya telusuri, saya semakin yakin bahwa apa yang terjadi pada Mister J mungkin baru tahap awal dari sebuah Waham Kebesaran. Bisa saja ini berlanjut sampai ke level skizofrenia atau bisa dicegah jika ada pihak-pihak yang bisa membantu Mister J menyadari realitanya.

Terus bagaimana cara membantu Mister J ini? Karena ini masih gejala, caranya gampang saja. Pertama, bangunlah hubungan saling percaya. Walau ini sulit tapi worth to try. Dengan saling percaya tentu makin lama akan makin banyak sharing yang kita dengarkan darinya. Dalam sharing tersebut tentu ada beberapa yang merupakan Isi Waham namun tidak apa. Dengarkan saja sampai selesai. Jangan berkomentar yang menolak ataupun membenarkan isi waham tersebut. Kedua, bantu dia mengidentifikasi kemampuan nyata yang ia miliki. Beri pujian pada kemampuannya yang realistik. Diskusikan kemampuannya ini dengan berhati-hati pada kemungkinan munculnya isi waham. Berikan pujian pada tindakan-tindakan positif atau prestasi nyata yang telah ia lakukan bukan pada apa yang ia bayangkan telah ia lakukan (isi waham). Dengan terus menerus menerapkan cara ini mudah-mudahan apa yang tadinya hanya gejala ini tidak akan sampai pada pada tahap lanjut menjadi Waham Kebesaran hingga skizofrenia. Ini yang sekarang saya coba terapkan dalam interaksi saya dengan Mister J.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering bertemu dengan orang-orang seperti Mister J. Atau mari kita coba selidiki dulu tabiat kita dalam berinteraksi dengan sesama. Apakah ada gejala-gejala seperti Mister J yang telah kita tunjukkan selama ini? Kalau ada mari lekas-lekas berbenah dan mengambil langkah mengatasinya. Yang jelas, ayo sama-sama kita waspadai gejala-gejalanya dan sebisa mungkin mengatasinya sebelum merugikan diri sendiri dan orang lain.

Advertisements

One thought on “Waspadai Gejala Awal Waham Kebesaran!

  1. Thanks ceritanya, Kak. Saya lagi cari info pengalaman soal orang yang menghadapi waham. Sayangnya, di internet rata-rata teori aja.

    Makasih tipsnya juga. Saya dan beberapa teman pernah dirugikan seorang yang kena waham merasa dicintai dan cemburu. Saya sudah coba mengajak bicara dia soal potensi nyatanya, dia yang cantik dan cerdas. Sayang, saya yang kurang sabar menghadapi wahamnya yang sudah pada taraf merugikan. Jadi, dia saya tinggal. Cuma bisa mendoakan dia berhenti menyakiti dirinya dan orang lain aja sekarang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s