Archive | November 2012

PEKERJAAN VS PELAYANAN

Pelayanan vs Pekerjaan (Sumber: s0lide0gl0ria.wordpress.com)

Tanggal 17 Oktober 2012 lalu, sebuah email dengan sengaja saya baca. Email tersebut dari seorang teman yang dahulu “melayani” di daerah yang sama dimana saya “bekerja” saat ini.

Pasti pembaca bingung ya? Kok kata melayani dan bekerja saya berikan tanda kutip? Yang pasti sejak email tersebut bergulir, banyak tanggapan dari rekan sekerja yang mengalir. Tentu saja agar semua bisa membaca, “reply to all” menjadi hal yang wajib. Bukan bermaksud menambah beban server tapi agar bisa jadi intermezzo di tengah-tengah rutinitas pekerjaan eh pelayanan 🙂

Ini dia email tersebut (mungkin didapat dari browsing dengan modifikasi ala Johny Sirait):

Wahai Sobat’s,

Kita sering mendengar tentang PEKERJA(AN) dan PELAYAN(AN)

Lalu apa bedanya PEKERJA(AN) dan PELAYAN(AN) ?

Jika Anda melakukannya hanya karena tidak ada orang lain, itu disebut PEKERJA(AN)

Jika Anda melakukannya dengan motivasi untuk Tuhan dan sesama, itu disebut PELAYANA(AN)

Jika Anda berhenti karena seseorang mengkritik Anda, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda terus melakukannya secara konsisten dan taat asas itu adalah PELAYAN(AN)

Jika Anda akan melakukannya hanya selama itu tidak mengganggu aktivitas Anda yang lain itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda berkomitmen untuk tinggal bersama masyarakat yang bermasalah dan ikhlas melepaskan hal-hal lain itu adalah PELAYAN(AN)

Jika Anda berhenti karena tidak ada yang memuji atau mengucapkan terima kasih pada Anda, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda tetap setia dengan itu meskipun tidak ada mengakui usaha Anda,itu adalah  PELAYAN(AN)

Sulit untuk mendapatkan semangat yang tulus bagi PEKERJA(AN)

Hampir mustahil untuk tidak bersemangat bagi PELAYAN(AN)

Jika perhatian kita adalah sukses semata, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika perhatian kita adalah kesetiaan pada proses dan hasil, itu adalah PELAYAN(AN)

Anda yang mana ???

Tak berapa lama kemudian, selang beberapa jam saja, beberapa balasan masuk. Ada yang mencoba menjawab bahwa, “Saya adalah pekerja yang melayani dan pelayan yang melakukan pekerjaan” (Johanis D. Dondokambey). Ada juga yang bingung menjawab dan mungkin tak ingin menjawab secara lugas. Tak penting membedakan apa itu pekerjaan dan apa itu pelayanan yang penting adalah komitmen. Komitmen kepada siapa pekerjaan maupun pelayanan itu ditujukan. Dengan kata lain, bekerja untuk Tuhan dan pelayan untuk Tuhan (I Wayan Polos Jonathan).

Yang cukup dalam pengertiannya (menurut Johanis D. Dondokambey) adalah pernyataan dalam email balasan tanggal 20 Oktober, saya copy paste sebagai berikut:

Hi Pak…terima kasih untuk email motivatif ini.

Yang saya imani adalah bahwa pekerjaan itu sebuah aksi dan pelayanan itu merupakan spirit-nya. Jadi jika seorang pekerja tidak memiliki spirit pelayan, sesungguhnya dia sedang mengerjakan sesuatu tanpa aspek kekekalan sementara jika seorang pekerja melakukan aksinya dengan spirit pelayanan maka bagian Sang Pemilik Ladang sedang dikecapnya…

Saya yakin semua yang membaca email bapak ini juga sedang berproses ke arah yang sama; bekerja dengan spirit pelayanan karena kita melayani Tuan yang sama, yang mempercayai kita menjadi alat-alat di tangan-Nya untuk beraksi menghadirkan kerajaan Allah di bumi 🙂 (Natalia Maria Magdalena).

Setelah itu, semua vakum. Sepertinya pembahasan antara pekerjaan vs pelayanan berakhir begitu saja walau mungkin sebenarnya masing-masing masih menyimpan pertanyaan besar dalam dirinya. Mungkin ada yang jadi galau. Ada juga yang tetap santai, ngga mau repot mikirin bedanya. Saya sepertinya termasuk salah satunya 🙂 (atau satu-satunya kali ya?)

Di dunia kerja atau sekuler (ketika definisi bekerja adalah menjadi karyawan di satu perusahaan) dimana atasan kita kemungkinan besar bukan pengikut Kristus, mudah saja memilihnya. Pekerjaan adalah di atas segalanya. Kalau tidak serius mengerjakannya, bisa dipecat. Pelayanan (ketika definisi pelayanan adalah melayani di gereja)? Yaaa… nanti dululah.

Larry Peabody[1] dalam bukunya yang berjudul “Pekerjaan Sekuler adalah Pelayanan Sepenuh Waktu” (Nafiri Gabriel, Jakarta, 1999) di salah satu artikelnya dalam buku tersebut, mengisahkan tentang kisah Daniel yang “ditugaskan” ke Babel. Daniel menunjukkan pelayanan sepenuh hatinya lewat pekerjaan yang dilakukannya. Demikian juga Rasul Paulus yang memilih harus bekerja di dunia sekuler untuk menjadi contoh bagi jemaat. Contoh bagaimana mengerjakan pekerjaan di dunia sekuler sebagai pelayanan sepenuh hati. Dengan demikian keraguan kita akan apakah pekerjaan ini adalah pelayanan atau pelayanan ini adalah pekerjaan seharusnya tidak perlu ada lagi. Semua pekerjaan adalah kudus jika kita yakin bahwa itu memang diberikan Tuhan bagi kita. DIA yang menempatkan kita di sana untuk dapat menjadi berkat dan terang bagi orang-orang di tempat kerja kita.

Bicara sekuler sepertinya gampang ya? Yang sulit adalah seorang pekerja (atau pelayan?) di NGO yang jelas-jelas menyatakan ke-Kristen-annya. Pelayanan atau pekerjaan selalu menjadi pertanyaan yang sepertinya tak pernah terselesaikan. Kalau mau gampang, saya pinjam saja kalimat dari salah satu teman, “Dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore itu bekerja. Di luar jam itu adalah pelayanan”. Anda setuju?

Setuju tidak setuju saya rasa tak masalah. Pelayanan atau pekerjaan juga tak masalah. Mau full time atau part time, ya ngga masalah juga. Yang penting full heart![2]


[1] i-kan-misi@xc.org

[2] Rohkris47.wordpress.com