Archives

Nikmatnya Hidangan Bakar Batu Wamena

Para lelaki mempersiapkan “bakar batu” (dok. pribadi)

Tinggal menetap selama 6 tahun (sejak tahun 2006) di Wamena Papua sebelum akhirnya pindah ke Surabaya membuat saya merindu satu masakan khas Wamena. Namanya bakar batu. Sebenarnya saya masih agak bingung apa ini bisa disebut jenis masakan atau teknik memasak. Yang pasti kami biasa menyebutnya “makan bakar batu” ketika masih di Wamena.

Apa itu “bakar batu”? Bakar batu ialah masakan yang dibuat dengan menggunakan batu panas. Batu panas inilah yang sebenarnya menjadi asal nama dari “makan bakar batu” ini. Batu-batu dikumpulkan dalam satu petak. Kemudian dibakar menggunakan kayu api selama beberapa jam. Hasilnya, ya batu panas tadi. Sambil menunggu batu-batu tersebut panas, biasanya para laki-laki membuat lubang di tanah dengan diameter sekitar setengah meter atau lebih (kadang bisa sampai satu meter, tergantung berapa banyak bahan yang akan dimasak) dan kedalaman setengah meter atau lebih juga. Lubang-lubang tersebut kemudian dilapisi dengan rumput atau alang-alang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sambil menunggu batu-batu panas juga, dipersiapkan segala bahan yang akan dimasukkan ke dalam lubang bersama dengan batu-batu panas. Bahan-bahan yang dipersiapkan biasanya adalah daging (biasanya masyarakat Wamena menggunakan daging babi, ayam, atau kelinci), sayur-sayuran (biasanya daun hipere/ daun ubi jalar) segala jenis, hipere/ ubi jalar, dan kalau ada ditambah dengan jagung. Dengan perkembangan jaman, kadangkala di beberapa daerah bisa ditemukan juga ada tambahan ikan (ikan mujair atau ikan mas) tergantung ketersediaan di wilayah tersebut.

Mempersiapkan “bakar batu” (dok. pribadi)

Setelah semua bahan siap dan batu-batu sudah panas, kaum lelaki akan memindahkan satu per satu batu-batu panas ke dalam lubang yang telah disiapkan. Batu-batu panas dimasukkan ke dalam lubang yang telah dilapisi alang-alang. Kemudian dilapisi lagi dengan sayur-sayuran, kemudian daging-dagingan biasanya menempati tempat paling bawah, diselingi dengan hipere, kemudian dilapisi lagi dengan sayuran, batu-batu panas lagi, dilapisi lagi dengan sayuran, diselingi lagi dengan hipere , jagung, dan sayuran lagi, begitu seterusnya hingga terbentuk gunungan yang akhirnya ditutupi alang-alang pada bagian akhirnya. Di beberapa tempat yang sudah dekat kota biasanya dilapisi lagi dengan terpal pada bagian akhirnya. Terpal menahan panas untuk tetap di dalam sehingga mempercepat proses kematangan bahan-bahan yang ada. Proses memasak yang dulu bisa sampai 4 – 5 jam bisa dipersingkat menjadi 2 -3 jam dengan bantuan terpal ini.

Bakar batu pada awal sejarahnya merupakan bagian ritual adat untuk merayakan hal-hal seperti kelahiran, kematian, pembuatan honai (rumah khas Wamena), mengumpulkan orang untuk bersama-sama membuka kebun baru, dan hal lain yang berhubungan dengan kehidupan dan penghidupan di satu osili (semacam kampong kecil). Dengan perkembangan jaman, bakar batu tak hanya dilakukan untuk hal-hal tersebut tetapi menjadi meluas. Bakar batu sering dilakukan dalam banyak acara lain selain ritual adat. Bahkan ketika pemilihan legislative (anggota dewan) dan executive (kepala daerah) beberapa waktu lalu, bakar batu menjadi sarana yang cukup ampuh dalam “menyedot” massa untuk kampanye.

Terlepas dari untuk apa tujuan bakar batu itu, yang pasti saya sangat menggemarinya. Saya masih ingat betapa empuknya ubi jalar yang matang hingga ke dalam walaupun ukurannya cukup besar (ubi jalar di Wamena bisa berdiameter 20 cm atau bahkan lebih), betapa renyahnya daging ayam bak dimasak dengan teknik presto “tulang lunak”, dan nikmatnya sambal dabu-dabu sebagai pelengkap penambah kenikmatan menyantap bakar batu. Untuk sambal dabu-dabu ini, ada karena pengaruh pendatang karena jika kita menyantap bakar batu di daerah yang benar-benar pedalaman maka kita tak akan menemukan adanya sambal apalagi sambal dabu-dabu. Dengan bakar batu ternyata semua kandungan nutrisi dalam bahan-bahannya tertahan tetap dalam bahan-bahan tersebut. Kalau ubi direbus misalnya, ada zat yang terlarut dalam air. Jika dibakar atau dimasak dengan oven, biasanya bagian luarnya gosong sementara bagian dalam belum matang. Bakar batu membuat ubi jalar sebesar apapun matang hingga ke dalam. Batu-batu panas memasak semua bahan perlahan-lahan hingga matang seluruhnya. Proses mematangkan ini biasanya memakan waktu cukup lama, bisa 2 hingga 3 jam semenjak semua bahan dimasukkan ke dalam lubang.

Coba kita perhatikan kandungan nutrisi ubi jalar ini yang tetap dipertahankan dalam hidangan bakar batu: (per 100 gram) protein 1,8 gram, lemak 0,7 gram, karbohidrat 27,9 gram, mineral 49 mg, yang tak kalah penting adalah kandungan vitamin A (retinol) sebesar 2000 mcg dan vitamin C sekitar 20 mg serta tidak mengandung kolesterol.

Dengan kandungan nutrisi sedemikian, ubi jalar dipercaya bisa membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, anti radang, membantu penyembuhan bronchitis dan arthritis, serta baik untuk penderita diabetes dan sering digunakan dalam program penambahan berat badan.

Daging sendiri, entah jenis daging mana yang digunakan dalam hidangan bakar batu adalah sumber protein hewani bermutu tinggi yang perlu dikonsumsi oleh setiap orang. Jika kita kebetulan mendapatkan bakar batu dengan menggunakan daging kelinci maka itu jauh lebih baik. Daging kelinci berserat halus dan mempunyai warna sedikit pucat sehingga dapat dikelompokkan dalam golongan daging berwarna putih seperti daging ayam. Daging putih mempunyai kadar lemak rendah dan glikogen yang tinggi. Selain itu daging kelinci mempunyai kandungan kolesterol dan natrium yang rendah sehingga aman dikonsumsi oleh orang berpenyakit jantung, usia lanjut, dan mereka yang mempunyai masalah dengan berat badan. Selain itu ada manfaat lain daging kelinci, antara lain: menurunkan kolesterol, meningkatkan kesuburan, dan bisa untuk membantu penderita asma.

Menikmati hidangan “bakar batu” (dok. pribadi). Penulis nomor dua dari kanan bersama istri dan teman-teman.

Wah cerita terus nih..kapan makannya? Saya teringat waktu itu, setelah lama menunggu (sekitar 3 jam) akhirnya saya dan teman-teman disuguhi hidangan bakar batu (lihat gambar). Kepingin mencoba? Datanglah ke Wamena (sekitar awal Agustus setiap tahunnya ada Festival Lembah Baliem yang pasti ada bakar batunya) dan buktikan sendiri!

Waspadai Gejala Awal Waham Kebesaran!

Mister J uring-uringan, sebagai salah satu manager proyek Mister J merasa tersinggung ketika tidak dilibatkan dalam diskusi via email tentang suatu proyek pendidikan. Mister J beranggapan sebagai mantan seorang spesialis pendidikan Mister J harus dilibatkan dalam semua diskusi tentang proyek pendidikan. Sebagai teman Mister J, saya waktu itu masih menganggap bahwa ini adalah hal yang wajar. Yah.. Mister J juga manusia biasa yang mungkin masih dalam proses menuju kedewasaannya.

Lambat laun ternyata saya kena batunya juga. Waktu itu saya mendapatkan informasi tentang sebuah lomba di internet yaitu lomba menulis yang diselenggarakan oleh salah satu instansi pemerintah. Saya pikir ini adalah kesempatan yang baik. Siapa tahu dengan mengikuti lomba menulis ini, pemerintah mendapat masukan yang baik dari masyarakat dan kemudian menerapkannya demi menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik. Karena menurut saya lomba ini baik maka saya informasikan via email ke beberapa rekan manager termasuk Mister J. Ternyata beberapa saat kemudian datanglah balasan email dari Mister J. Kalimatnya garang. Saya dianjurkan untuk berhati-hati dan tidak mengikuti lomba ini. Menurut Mister J tidak baik kalau perusahaan dimana kami bernaung mengikuti lomba menulis ini. Kalau mengikuti lomba menulis ini berarti kita setuju dengan ideologi politik bangsa ini yang jelas-jelas tidak sesuai dengan ideologi perusahaan. Begitu kata Mister J. Karena balasan Mister J yang cepat tersebut, saya berasumsi bahwa Mister J tidak membaca lampiran email yang saya kirimkan. Asumsi saya kalau Mister J membaca lampiran email yang saya kirimkan maka ia akan menemukan bahwa lomba ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik. Ini semata-mata lomba menulis biasa yang bertujuan memberikan masukan ke pemerintah. Kemudian emailnya saya balas. Saya mencoba menanyakan ke Mister J apakah ia sudah membaca lampiran email tersebut. Saya terangkan asumsi saya tadi dengan lebih terperinci dengan bahasa yang cukup sederhana. Ternyata tak berapa lama, datang lagi email Mister J. Isinya, “Justru karena saya sudah membaca lampirannya maka saya sarankan untuk tidak mengikuti lomba ini” begitu tulisannya dalam email. Karena tidak ingin memperpanjang, saya hanya menjawab “terimakasih atas sarannya” dan akhirnya tidak ada jawaban email lagi dari Mister J.

Dalam keseharian kami bertegur sapa, ternyata saya makin menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam tutur kata Mister J. Dalam setiap diskusi ia berusaha memberikan kesan merendah namun ternyata kalau kita simak baik-baik tutur katanya, ia lebih banyak berkata-kata tentang dirinya sendiri. Ia dulu beginilah, ia dulu begitulah, ia dengan kesuksesannya sering diundang bertemu dengan gubernur, dan lain sebagainya. Intinya, semua tentang apa yang ia lakukan yang telah berhasil di masa lampau. Beberapa kali saya mencoba mengecek kebenarannya lewat rekan-rekannya yang dulu pernah bekerja sama dengan dia namun ternyata informasi yang saya dapatkan justru bertolak belakang dengan kenyataan yang coba disampaikan oleh Mister J. Akhirnya sebagai seseorang dengan latar belakang medis, saya mencoba menarik kesimpulan tentang situasi Mister J ini. Kesimpulan saya, jangan-jangan ini adalah gejala awal dirinya mengidap apa yang disebut dengan Waham Kebesaran. Apa itu Waham? Beberapa definisi berikut mungkin bisa membantu. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya (Maramis, W.F, 1995). Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan dalam kenyataan (Harold I, 1998). Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika (Ann Isaac, 2004). Kata-kata yang sering disampaikan oleh seseorang secara berulang-ulang yang tidak sesuai dengan logika, itulah yang disebut dengan Isi Waham. Isi waham sangat bergantung pada latar belakang pendidikan dan sosiokultural seseorang. Waham dikelompokkan menurut tema utamanya. Waham kebesaran (grandeur delusion) adalah suatu konsep pemikiran yang berlebihan tentang kekuatan, kepandaian, kekayaan dan identitas seseorang.

Kemudian saya mencoba menelusuri faktor-faktor apa yang bisa menyebabkan seseorang itu menderita gejala awal Waham. Ternyata ada faktor predisposisi. Faktor predisposisi ini terdiri dari faktor biologis, faktor genetik, faktor psikologis, dan sosial budaya. Faktor biologis menyangkut apakah ada gangguan perkembangan otak, apakah ada gangguan tumbuh kembang, atau apakah orang tersebut dilahirkan kembar (monozigot atau kembar dua telur). Faktor genetik adalah faktor yang diturunkan yaitu apakah ada riwayat skizofrenia dalam keluarga. Faktor psikologis terdiri dari: ibu/ pengasuh yang over protektif, dingin, dan tidak sensitif. Selain itu adanya hubungan dengan ayah yang tidak dekat atau kurang perhatian atau bisa juga mendapatkan perhatian yang berlebihan dari sang ayah. Sedangkan faktor sosial budaya terdiri dari: stress yang menumpuk, hubungan sosial yang tidak harmonis, dan kemiskinan. Selain faktor di atas, juga ada faktor lainnya seperti faktor presipitasi yang di dalamnya berisi faktor biokimia dan psikologi. Faktor biokimia memandang ada kaitannya Waham bisa muncul karena dipacu oleh zat kimia tertentu, sedangkan faktor psikologis diduga berkaitan dengan kecemasan yang ekstrim yang disertai dengan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah.

Wah..kira-kira faktor apa yang mempengaruhi Mister J ya?

Saya mencoba mendalami masa lalu Mister J. Tepatnya, masa kecilnya. Mister J ini dikenal takut sekali dengan yang namanya ikan. Konon, menurut penuturan Mister J, dirinya pernah direndam di kolam ikan oleh ibunya. Sampai sekarang Mister J tidak berani makan ikan. Saya sendiri masih agak kabur soal apa alasan ibunya merendam Mister J kecil dalam kolam ikan tersebut. Ketika ditanyakan ke Mister J, jawabannya selalu berubah-ubah. Oh iya, Mister J juga kehilangan figur ayah pada masa remajanya. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan munculnya gejala Waham Kebesaran pada Mister J. Semakin saya telusuri, saya semakin yakin bahwa apa yang terjadi pada Mister J mungkin baru tahap awal dari sebuah Waham Kebesaran. Bisa saja ini berlanjut sampai ke level skizofrenia atau bisa dicegah jika ada pihak-pihak yang bisa membantu Mister J menyadari realitanya.

Terus bagaimana cara membantu Mister J ini? Karena ini masih gejala, caranya gampang saja. Pertama, bangunlah hubungan saling percaya. Walau ini sulit tapi worth to try. Dengan saling percaya tentu makin lama akan makin banyak sharing yang kita dengarkan darinya. Dalam sharing tersebut tentu ada beberapa yang merupakan Isi Waham namun tidak apa. Dengarkan saja sampai selesai. Jangan berkomentar yang menolak ataupun membenarkan isi waham tersebut. Kedua, bantu dia mengidentifikasi kemampuan nyata yang ia miliki. Beri pujian pada kemampuannya yang realistik. Diskusikan kemampuannya ini dengan berhati-hati pada kemungkinan munculnya isi waham. Berikan pujian pada tindakan-tindakan positif atau prestasi nyata yang telah ia lakukan bukan pada apa yang ia bayangkan telah ia lakukan (isi waham). Dengan terus menerus menerapkan cara ini mudah-mudahan apa yang tadinya hanya gejala ini tidak akan sampai pada pada tahap lanjut menjadi Waham Kebesaran hingga skizofrenia. Ini yang sekarang saya coba terapkan dalam interaksi saya dengan Mister J.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering bertemu dengan orang-orang seperti Mister J. Atau mari kita coba selidiki dulu tabiat kita dalam berinteraksi dengan sesama. Apakah ada gejala-gejala seperti Mister J yang telah kita tunjukkan selama ini? Kalau ada mari lekas-lekas berbenah dan mengambil langkah mengatasinya. Yang jelas, ayo sama-sama kita waspadai gejala-gejalanya dan sebisa mungkin mengatasinya sebelum merugikan diri sendiri dan orang lain.