Archives

HUTANKU SEKOLAHKU – Menyemai model Sekolah Hijau di Kecamatan Balai Kabupaten Sanggau

“Kalau melihat seperti ini, saya rasanya ingin hidup seratus tahun lagi, untuk mewujudkan sekolah hijau dan melihat hasilnya, seperti apa anak-anak yang kita didik bertumpu pada alam dan kearifan budaya. Baru kali ini saya disadarkan bahwa lingkungan sekitar ternyata  guru dan pembelajaran itu sendiri.”

Kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Hijau

Itulah ungkapan pencerahan yang disampaikan dengan berapi-api oleh Bapak Murdiono, Ama Pd., salah seorang pengawas sekolah yang telah mengabdi puluhan tahun di Kecamatan Balai. Memang dunia terus berubah, kalau kita menyiapkan anak-anak kita sebagaimana kita disiapkan dulu, maka anak-anak kita tidak akan dapat menghadapi berbagai tantangan perubahan yang terus berderap tak terkendali saat ini. Untuk itu didiklah anak-anak sesuai dengan tantangan  jamannya. Dulu Borneo identik dengan hutan, namun kini semua telah berubah. Eksploitasi sumber daya alam, pembabatan hutan, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim menjadi tantangan besar pembangunan daerah Kalimantan. Bagaimana menyiapkan anak-anak menjadi bagian pemecahan persoalan-persoalan di wilayah tempat mereka tinggal? Bagaimana memampukan anak-anak menjadi penjaga tanah tumpah darahnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi topik diskusi penting dalam pelatihan pengembangan model sekolah hijau di Kecamatan Balai Batang Tarang Kabupaten Sanggau. Pelatihan tersebut diselenggarakan atas kerjasama Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Balai Kabupaten Sanggau, World Vision Indonesia – ADP Sanggau dan TRUE (Teacher Resources Empowerment) Bogor sebagai fasilitator teknis. Sebanyak 50 guru terlibat secara aktif dalam pelatihan yang dikemas secara interkatif, kreatif dan menyenangkan. Adapun tujuan dari pelatihan adalah untuk membangun pencerahan bersama tentang pendidikan sejati, guru sejati untuk membimbing generasi paripurna.

Apa itu Pendidikan sejati?

Pendidikan yang dapat menyiapkan anak untuk dapat menghadapi hidup dan melestarikan kehidupan di muka bumi. Pendidikan haruslah merupakan proses yang dapat membantu anak-anak membangun pribadi yang merdeka dan mandiri, memiliki pilihan-pilihan, memiliki kepekaan terhadap masalah di lingkungan sosialnya dan dapat menciptakan kreatifitas – menemukan sesuatu yang baru yang dibutuhkan oleh jamannya. Pendidikan menjadi lebih fungsional karena berdialog dengan keseharian atau lingkungan di mana anak tinggal. Anak difasilitasi  untuk  mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan praktek bagaimana mengelola lingkungan sekitarnya. Apa yang dipelajari di sekolah ‘nyambung’ dengan persoalan-persoalan hidup di komunitasnya (pendidikan kontekstual).

Bagaimana Pendidikan Kontekstual di Kecamatan Balai?

Melalui sebuah kajian dan dialog yang dibangun bersama guru, komite dan Dinas Pendidikan setempat, isu-isu kontekstual yang ingin diintegrasikan dalam proses pendidikan di sekolah adalah isu pelestarian lingkungan alam. Bagiamana proses integrasi ini bisa dilaksanakan? Pendidikan berwawasan pelestarian lingkungan alam atau sekolah hijau diterjemahkan dalam istilah yang lebih dekat dengan masyarakat dan anak-anak, yaitu “Hutanku Sekolahku”. Berdasarkan penggalian bersama ada 3 elemen penting yang akan diintegrasikan dalam Pengembangan Model Sekolah Hijau, yaitu: (1) Metode pembelajaran hijau, (2) Lingkungan pembelajaran hijau dan (3) Karakter harmoni hijau.

Metode pembelajaran hijau menekankan pada pentingnya mengintegrasikan potensi alam dan budaya lokal ke dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan pelatihan tahap II ini, para guru diajak untuk membuat pembelajaran tematik dengan menggunakan konteks dan budaya lokal, serta membuat media belajar dari bahan-bahan alam dan barang bekas. Peserta juga diberikan inspirasi dan diajak untuk melakukan kegiatan di kebun dan lingkungan sekitar sekolah.

Untuk mendukung metode pembelajaran hijau diperlukan penataan lingkungan pembelajaran yang hijau. Pada kegiatan pelatihan peserta juga diajak berdiskusi dan merancang tata ruang lingkungan sekolah sesuai zona dan fungsi yang lebih efektif. Gagasan besarnya adalah menjadikan lingkungan sekolah sebagai kebun raya mini sebagai tempat konservasi plasma nutfah tumbuhan asli Kalimantan yang sekarang terancam punah akibat pengrusakan hutan.

Pembelajaran di sekolah hijau juga tidak sekedar menekankan pada pencapaian kompetensi akademis semata. Penanaman sikap dan karakter positif juga menjadi elemen penting yang perlu dikembangkan. Dalam pelatihan Sekolah Hijau, penanaman karakter menjadi elemen ketiga, yakni karakter harmoni hijau. Harmoni hijau meliputi harmoni diri, harmoni sesama dan harmoni alam.

Basis dari Sekolah Hijau – Hutanku Sekolahku ini adalah pendidikan yang bertumpu pada pemberdayaan dan pemanfaatan potensi lingkungan sekitar baik lingkungan alam maupun budaya/ kearifan lokal baik dalam hal metode, ragam kegiatan pembelajaran dan media belajar. Tema-tema kehidupan masyarakat sehari-hari dihadirkan menjadi tema-tema belajar di sekolah. Semua itu agar anak-anak memiliki kesadaran, kepekaan dan ketrampilan untuk mengelola dan melestarikan lingkungan hidup baik untuk masa sekarang maupun kelak ketika mereka telah dewasa.

Apakah ini keluar dari strandar yang ada?

Tidak! Integrasi Sekolah Hijau dalam struktur pendidikan justru memperkuat pendekatan MBS-PAKEM yang telah dikembangkan sebelumnya dan mengisi kontekstualisasi yang telah dimandatkan oleh otonomi pendidikan melalui KTSP. Selain itu dalam RPJM kemendiknas 2010-2014 juga tertulis salah satu poin indikator – terciptanya model pembaharuan pendidikan. Sekolahku Hutanku bisa menjadi poin inovasi pendidikan yang dikontribusikan oleh sekolah dari Kalimantan Barat untuk pembaharuan pendidikan di Indonesia.

SDN 20 Batang Tarang dan SDN 10 Padikaye di Kecamatan Balai disepakati menjadi sekolah yang didampingi untuk menjadi sekolah model, sebagai laboratorium pembelajaran bagi sekolah lain. Pendampingan sekolah model dilakukan secara bertahap, mulai dari kajian, open mind, penemuan elemen-elemen sekolah hijau, pelatihan guru, pendampingan langsung ke sekolah, monitoring & refleksi. Pelatihan  kali ini merupakan pendampingan tahap 2, di mana para guru diajak untuk bersama-sama menstrukturkan elemen-elemen sekolah hijau dalam perencanaan dan ragam aktifitas pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Optimis

Inisiatif ini didukung oleh berabagai elemen baik masyarakat maupun pemerintah setempat. Dalam sambutannya Bpk. Daniel, SPd. Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Balai mengungkapkan harapannya agar 2 sekolah yang telah ditunjuk dapat menjadi duta sekolah hijau untuk Kecamatan Balai dan wilayah yang lebih luas lagi. Bpk. Amron Gultom, STP. Manajer ADP Sanggau Wahana Visi Indonesia – mitra World Vision Indonesia menegaskan harapannya agar inisiatif pengarusutamaan pelestarian lingkungan dalam pendidikan dapat benar-benar terwujud karena pendidikan merupakan wahana strategis untuk mengembalikan berbagai interaksi dan kearifan masyarakat terkait dengan alam yang makin tergerus oleh perubahan jaman. Dan terlebih-lebih bagaimana memampukan dan melibatkan anak-anak sebagai agen perubahan yang baik. Selain berbagai dukungan tersebut, dalam pelatihan tahap 1 yang diselenggarakan pada Bulan September yang lalu, perwakilan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sanggau memberikan dukungan yang sangat positif. Ayo adep sama-sama memaju gerakan sekolah hijau – Hutanku Sekolahku!

(Cerita oleh: Susana Srini & Agus Gusnul)

Advertisements