Archives

Mencoba menulis kembali, kembali mencoba menulis

Memulai menulis posting di blog ini setelah posting terakhir hampir 2 tahun yang lalu membuat saya sedikit harap-harap cemas. Harap-harap cemas karena takut kata-kata yang saya ketik menjadi rangkaian kalimat tidak lagi sebagus dulu. Tidak lagi selancar dulu. Dulu, ketika beberapa lomba blog pernah saya menangkan. Entah sebagai pemenang hiburan atau hanya sebagai pemenang utama 😉 Oh iya, tulisan terakhir yang saya posting di blog ini termasuk yang menang juga lho…

Yang jelas, mencari sesuatu untuk ditulis itulah yang penting. Sama ketika saya menemukan sebuah quote yang cukup menarik yang berbunyi “Orang besar bicara ide, orang biasa bicara diri mereka sendiri, sementara orang berjiwa kerdil membicarakan orang lain”. Apa yang menarik? Karena kalimat yang terakhirnya yaitu mengenai orang yang berjiwa kerdil yang suka ngomongin orang lain. Sering kah bertemu jenis orang seperti ini? Kayaknya pasti sering dan sangat sering kita temukan dalam berbagai tempat dan waktu. Entah di kantor, di sekolah, di kampus, di berbagai tempat umum, hingga di tempat-tempat yang seharusnya tidak ada orang… nah…

Memang tak pernah salah menjadi orang biasa. Ada quote lain yang saya temukan berbunyi “Saya hanya orang biasa yang mendapatkan banyak kesempatan”. Jadi, menjadi orang biasa itupun sebenarnya tak salah. Asalkan bisa memanfaatkan banyak kesempatan yang datang padanya. Caranya? Tentu harus jeli melihat bagaimana kesempatan itu muncul. Kalau tak sadar kesempatan itu datang, bagaimana bisa memanfaatkannya?

Akhirnya quote yang menarik tadi saya modifikasi dan saya buatkan dalam bentuk wallpaper yang bisa para pembaca simpan jika dianggap menarik. Bisa juga mengutip quotenya saja, tak usah dilihat nama pembuat wallpapernya.

Quote yang menarik nih...

Quote yang menarik nih…

Sekian dulu tulisan yang sekali-sekalinya dibuat bukan untuk lomba ini. Lagipula untuk berbagai lomba saat ini terutama lomba blog sudah terlalu banyak pesaingnya. Biarkan para pendatang baru berkarya. Tapi, kalau ada yang hadiahnya besar ya boleh juga diikuti 🙂

Salam!

Pekerjaan, bagian dari Spiritual Journey saya!

Bersama Marching Band Swara Anak Lanny

Bersama Marching Band Swara Anak Lanny

CoH Training of Facilitator, India

CoH Training of Facilitator, India

Di Radio VLC, Tiom, Lanny Jaya, Papua

Di Radio VLC, Tiom, Lanny Jaya, Papua

At Pernas AIDS IV,   Yogyakarta

At Pernas AIDS IV, Yogyakarta

OTw ke Wanem, Kurima, Yahukimo

Otw ke Wanem, Kurima, Yahukimo

Apa bedanya bekerja di dunia sekuler dan dunia pelayanan? Rasanya hampir tidak ada bedanya. Saya pribadi merasa kalau saya sudah merasakan keduanya. Bekerja sebagai kepala Puskesmas selama 2 tahun di Pulau Alor NTT dan bekerja sebagai pegiat sosial (begitu Pak TAS menyebutnya) di Wahana Visi Indonesia hingga sekarang.

Bagi saya, pekerjaan saya adalah bagian dari karya besar kehendak Tuhan dalam diri saya. Bukan suatu kebetulan kalau akhirnya saya memilih bekerja di organisasi ini. Setelah bekerja bersama WV selama 8 tahun, perubahan yang terjadi adalah adanya komunikasi yang teratur antara saya dengan Tuhan dalam bentuk devosi pribadi, keluarga, dan bersama rekan-rekan dalam pekerjaan ini.

Yang memotivasi saya melakukan semua ini adalah semata-mata karena ingin menyenangkan hati Tuhan, karena saya berharap agar Tuhan tersenyum setiap melihat pekerjaan baik yang saya lakukan, keluarga saya semakin diberkati hari demi hari, dan masyarakat yang saya layani juga merasakan manfaat yang cukup dari apa yang saya lakukan sehingga organisasi ini dapat terus berkarya dengan lebih dan lebih lagi di masa mendatang.

 Jika ditanyakan ke saya, adakah pribadi yg menjadi inspirasi? Bagi saya pribadi yang menginspirasi hanya Yesus. Sampai saat ini saya belum menemukan ada pribadi yang seperti Dia.

Apa spiritual journey yang paling saya rasakan bersama WVI? Dulu saya adalah orang yang paling sulit menyediakan waktu untuk hubungan pribadi dengan Tuhan. Sebagai orang yang berlatar belakang medis tentu logika dan pengetahuan selalu menjadi patokan yang utama dalam bertindak. Baru setelah bergabung bersama WVI saya pada awalnya “dipaksa” untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan. Lama kelamaan itu bukan jadi “paksaan” buat saya tetapi menjadi waktu-waktu yang saya nantikan. Saat ini saya mempunyai jadwal teratur berkomunikasi dengan Tuhan baik itu jadwal pribadi, keluarga, maupun saat devosi bersama di kantor.

Ada satu qoute yg bisa memotivasi saya selama ini. Johann Wolfgang von Gothe, “Thinking is easy, acting is difficult, and to put one’s thoughts into action is the most difficult thing in the world”. Quote ini menjadi menarik karena berbicara tentang hal yang sering saya lakukan yaitu berpikir. Karena ternyata betul, berpikir itu mudah. Menjadikannya suatu aksi itu yang susah. Tapi yang paling susah ternyata adalah mengimplementasikan apa yang jadi pikiran orang lain. Ini yang sering ditemukan ketika bekerja di organisasi ini. Namun dengan kualitas spiritual yang baik, saya tetap percaya apapun itu asal untuk kebaikan masyarakat dan anak-anak yang kita layani pasti akan berhasil kita lakukan. Tuhan kiranya selalu menyertai perjalanan saya bersama WVI.

PEKERJAAN VS PELAYANAN

Pelayanan vs Pekerjaan (Sumber: s0lide0gl0ria.wordpress.com)

Tanggal 17 Oktober 2012 lalu, sebuah email dengan sengaja saya baca. Email tersebut dari seorang teman yang dahulu “melayani” di daerah yang sama dimana saya “bekerja” saat ini.

Pasti pembaca bingung ya? Kok kata melayani dan bekerja saya berikan tanda kutip? Yang pasti sejak email tersebut bergulir, banyak tanggapan dari rekan sekerja yang mengalir. Tentu saja agar semua bisa membaca, “reply to all” menjadi hal yang wajib. Bukan bermaksud menambah beban server tapi agar bisa jadi intermezzo di tengah-tengah rutinitas pekerjaan eh pelayanan 🙂

Ini dia email tersebut (mungkin didapat dari browsing dengan modifikasi ala Johny Sirait):

Wahai Sobat’s,

Kita sering mendengar tentang PEKERJA(AN) dan PELAYAN(AN)

Lalu apa bedanya PEKERJA(AN) dan PELAYAN(AN) ?

Jika Anda melakukannya hanya karena tidak ada orang lain, itu disebut PEKERJA(AN)

Jika Anda melakukannya dengan motivasi untuk Tuhan dan sesama, itu disebut PELAYANA(AN)

Jika Anda berhenti karena seseorang mengkritik Anda, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda terus melakukannya secara konsisten dan taat asas itu adalah PELAYAN(AN)

Jika Anda akan melakukannya hanya selama itu tidak mengganggu aktivitas Anda yang lain itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda berkomitmen untuk tinggal bersama masyarakat yang bermasalah dan ikhlas melepaskan hal-hal lain itu adalah PELAYAN(AN)

Jika Anda berhenti karena tidak ada yang memuji atau mengucapkan terima kasih pada Anda, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda tetap setia dengan itu meskipun tidak ada mengakui usaha Anda,itu adalah  PELAYAN(AN)

Sulit untuk mendapatkan semangat yang tulus bagi PEKERJA(AN)

Hampir mustahil untuk tidak bersemangat bagi PELAYAN(AN)

Jika perhatian kita adalah sukses semata, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika perhatian kita adalah kesetiaan pada proses dan hasil, itu adalah PELAYAN(AN)

Anda yang mana ???

Tak berapa lama kemudian, selang beberapa jam saja, beberapa balasan masuk. Ada yang mencoba menjawab bahwa, “Saya adalah pekerja yang melayani dan pelayan yang melakukan pekerjaan” (Johanis D. Dondokambey). Ada juga yang bingung menjawab dan mungkin tak ingin menjawab secara lugas. Tak penting membedakan apa itu pekerjaan dan apa itu pelayanan yang penting adalah komitmen. Komitmen kepada siapa pekerjaan maupun pelayanan itu ditujukan. Dengan kata lain, bekerja untuk Tuhan dan pelayan untuk Tuhan (I Wayan Polos Jonathan).

Yang cukup dalam pengertiannya (menurut Johanis D. Dondokambey) adalah pernyataan dalam email balasan tanggal 20 Oktober, saya copy paste sebagai berikut:

Hi Pak…terima kasih untuk email motivatif ini.

Yang saya imani adalah bahwa pekerjaan itu sebuah aksi dan pelayanan itu merupakan spirit-nya. Jadi jika seorang pekerja tidak memiliki spirit pelayan, sesungguhnya dia sedang mengerjakan sesuatu tanpa aspek kekekalan sementara jika seorang pekerja melakukan aksinya dengan spirit pelayanan maka bagian Sang Pemilik Ladang sedang dikecapnya…

Saya yakin semua yang membaca email bapak ini juga sedang berproses ke arah yang sama; bekerja dengan spirit pelayanan karena kita melayani Tuan yang sama, yang mempercayai kita menjadi alat-alat di tangan-Nya untuk beraksi menghadirkan kerajaan Allah di bumi 🙂 (Natalia Maria Magdalena).

Setelah itu, semua vakum. Sepertinya pembahasan antara pekerjaan vs pelayanan berakhir begitu saja walau mungkin sebenarnya masing-masing masih menyimpan pertanyaan besar dalam dirinya. Mungkin ada yang jadi galau. Ada juga yang tetap santai, ngga mau repot mikirin bedanya. Saya sepertinya termasuk salah satunya 🙂 (atau satu-satunya kali ya?)

Di dunia kerja atau sekuler (ketika definisi bekerja adalah menjadi karyawan di satu perusahaan) dimana atasan kita kemungkinan besar bukan pengikut Kristus, mudah saja memilihnya. Pekerjaan adalah di atas segalanya. Kalau tidak serius mengerjakannya, bisa dipecat. Pelayanan (ketika definisi pelayanan adalah melayani di gereja)? Yaaa… nanti dululah.

Larry Peabody[1] dalam bukunya yang berjudul “Pekerjaan Sekuler adalah Pelayanan Sepenuh Waktu” (Nafiri Gabriel, Jakarta, 1999) di salah satu artikelnya dalam buku tersebut, mengisahkan tentang kisah Daniel yang “ditugaskan” ke Babel. Daniel menunjukkan pelayanan sepenuh hatinya lewat pekerjaan yang dilakukannya. Demikian juga Rasul Paulus yang memilih harus bekerja di dunia sekuler untuk menjadi contoh bagi jemaat. Contoh bagaimana mengerjakan pekerjaan di dunia sekuler sebagai pelayanan sepenuh hati. Dengan demikian keraguan kita akan apakah pekerjaan ini adalah pelayanan atau pelayanan ini adalah pekerjaan seharusnya tidak perlu ada lagi. Semua pekerjaan adalah kudus jika kita yakin bahwa itu memang diberikan Tuhan bagi kita. DIA yang menempatkan kita di sana untuk dapat menjadi berkat dan terang bagi orang-orang di tempat kerja kita.

Bicara sekuler sepertinya gampang ya? Yang sulit adalah seorang pekerja (atau pelayan?) di NGO yang jelas-jelas menyatakan ke-Kristen-annya. Pelayanan atau pekerjaan selalu menjadi pertanyaan yang sepertinya tak pernah terselesaikan. Kalau mau gampang, saya pinjam saja kalimat dari salah satu teman, “Dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore itu bekerja. Di luar jam itu adalah pelayanan”. Anda setuju?

Setuju tidak setuju saya rasa tak masalah. Pelayanan atau pekerjaan juga tak masalah. Mau full time atau part time, ya ngga masalah juga. Yang penting full heart![2]


[1] i-kan-misi@xc.org

[2] Rohkris47.wordpress.com