PEKERJAAN VS PELAYANAN

Pelayanan vs Pekerjaan (Sumber: s0lide0gl0ria.wordpress.com)

Tanggal 17 Oktober 2012 lalu, sebuah email dengan sengaja saya baca. Email tersebut dari seorang teman yang dahulu “melayani” di daerah yang sama dimana saya “bekerja” saat ini.

Pasti pembaca bingung ya? Kok kata melayani dan bekerja saya berikan tanda kutip? Yang pasti sejak email tersebut bergulir, banyak tanggapan dari rekan sekerja yang mengalir. Tentu saja agar semua bisa membaca, “reply to all” menjadi hal yang wajib. Bukan bermaksud menambah beban server tapi agar bisa jadi intermezzo di tengah-tengah rutinitas pekerjaan eh pelayanan 🙂

Ini dia email tersebut (mungkin didapat dari browsing dengan modifikasi ala Johny Sirait):

Wahai Sobat’s,

Kita sering mendengar tentang PEKERJA(AN) dan PELAYAN(AN)

Lalu apa bedanya PEKERJA(AN) dan PELAYAN(AN) ?

Jika Anda melakukannya hanya karena tidak ada orang lain, itu disebut PEKERJA(AN)

Jika Anda melakukannya dengan motivasi untuk Tuhan dan sesama, itu disebut PELAYANA(AN)

Jika Anda berhenti karena seseorang mengkritik Anda, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda terus melakukannya secara konsisten dan taat asas itu adalah PELAYAN(AN)

Jika Anda akan melakukannya hanya selama itu tidak mengganggu aktivitas Anda yang lain itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda berkomitmen untuk tinggal bersama masyarakat yang bermasalah dan ikhlas melepaskan hal-hal lain itu adalah PELAYAN(AN)

Jika Anda berhenti karena tidak ada yang memuji atau mengucapkan terima kasih pada Anda, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika Anda tetap setia dengan itu meskipun tidak ada mengakui usaha Anda,itu adalah  PELAYAN(AN)

Sulit untuk mendapatkan semangat yang tulus bagi PEKERJA(AN)

Hampir mustahil untuk tidak bersemangat bagi PELAYAN(AN)

Jika perhatian kita adalah sukses semata, itu adalah PEKERJA(AN)

Jika perhatian kita adalah kesetiaan pada proses dan hasil, itu adalah PELAYAN(AN)

Anda yang mana ???

Tak berapa lama kemudian, selang beberapa jam saja, beberapa balasan masuk. Ada yang mencoba menjawab bahwa, “Saya adalah pekerja yang melayani dan pelayan yang melakukan pekerjaan” (Johanis D. Dondokambey). Ada juga yang bingung menjawab dan mungkin tak ingin menjawab secara lugas. Tak penting membedakan apa itu pekerjaan dan apa itu pelayanan yang penting adalah komitmen. Komitmen kepada siapa pekerjaan maupun pelayanan itu ditujukan. Dengan kata lain, bekerja untuk Tuhan dan pelayan untuk Tuhan (I Wayan Polos Jonathan).

Yang cukup dalam pengertiannya (menurut Johanis D. Dondokambey) adalah pernyataan dalam email balasan tanggal 20 Oktober, saya copy paste sebagai berikut:

Hi Pak…terima kasih untuk email motivatif ini.

Yang saya imani adalah bahwa pekerjaan itu sebuah aksi dan pelayanan itu merupakan spirit-nya. Jadi jika seorang pekerja tidak memiliki spirit pelayan, sesungguhnya dia sedang mengerjakan sesuatu tanpa aspek kekekalan sementara jika seorang pekerja melakukan aksinya dengan spirit pelayanan maka bagian Sang Pemilik Ladang sedang dikecapnya…

Saya yakin semua yang membaca email bapak ini juga sedang berproses ke arah yang sama; bekerja dengan spirit pelayanan karena kita melayani Tuan yang sama, yang mempercayai kita menjadi alat-alat di tangan-Nya untuk beraksi menghadirkan kerajaan Allah di bumi 🙂 (Natalia Maria Magdalena).

Setelah itu, semua vakum. Sepertinya pembahasan antara pekerjaan vs pelayanan berakhir begitu saja walau mungkin sebenarnya masing-masing masih menyimpan pertanyaan besar dalam dirinya. Mungkin ada yang jadi galau. Ada juga yang tetap santai, ngga mau repot mikirin bedanya. Saya sepertinya termasuk salah satunya 🙂 (atau satu-satunya kali ya?)

Di dunia kerja atau sekuler (ketika definisi bekerja adalah menjadi karyawan di satu perusahaan) dimana atasan kita kemungkinan besar bukan pengikut Kristus, mudah saja memilihnya. Pekerjaan adalah di atas segalanya. Kalau tidak serius mengerjakannya, bisa dipecat. Pelayanan (ketika definisi pelayanan adalah melayani di gereja)? Yaaa… nanti dululah.

Larry Peabody[1] dalam bukunya yang berjudul “Pekerjaan Sekuler adalah Pelayanan Sepenuh Waktu” (Nafiri Gabriel, Jakarta, 1999) di salah satu artikelnya dalam buku tersebut, mengisahkan tentang kisah Daniel yang “ditugaskan” ke Babel. Daniel menunjukkan pelayanan sepenuh hatinya lewat pekerjaan yang dilakukannya. Demikian juga Rasul Paulus yang memilih harus bekerja di dunia sekuler untuk menjadi contoh bagi jemaat. Contoh bagaimana mengerjakan pekerjaan di dunia sekuler sebagai pelayanan sepenuh hati. Dengan demikian keraguan kita akan apakah pekerjaan ini adalah pelayanan atau pelayanan ini adalah pekerjaan seharusnya tidak perlu ada lagi. Semua pekerjaan adalah kudus jika kita yakin bahwa itu memang diberikan Tuhan bagi kita. DIA yang menempatkan kita di sana untuk dapat menjadi berkat dan terang bagi orang-orang di tempat kerja kita.

Bicara sekuler sepertinya gampang ya? Yang sulit adalah seorang pekerja (atau pelayan?) di NGO yang jelas-jelas menyatakan ke-Kristen-annya. Pelayanan atau pekerjaan selalu menjadi pertanyaan yang sepertinya tak pernah terselesaikan. Kalau mau gampang, saya pinjam saja kalimat dari salah satu teman, “Dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore itu bekerja. Di luar jam itu adalah pelayanan”. Anda setuju?

Setuju tidak setuju saya rasa tak masalah. Pelayanan atau pekerjaan juga tak masalah. Mau full time atau part time, ya ngga masalah juga. Yang penting full heart![2]


[1] i-kan-misi@xc.org

[2] Rohkris47.wordpress.com

Advertisements

Sehebat Itukah Lady Gaga?

Membaca salah satu judul berita di VoA tentang adanya spesies tanaman pakis baru yang diberi nama Lady Gaga, membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Penting amat sih, sampai nama pakis saja harus diberi nama Lady Gaga. Apalagi menyimak alasan mengapa nama Lady Gaga diberikan untuk tanaman pakis tersebut. Simak pernyataan salah satu profesor biologi yang terlibat dalam penemuan tanaman pakis itu, “karena pembelaannya (Lady Gaga) yang berapi-api atas kesetaraan dan kebebasan ekspresi individu”. Itulah alasan mengapa tanaman pakis itu diberi nama Lady Gaga. Tentunya alasan lain yang terkait kemiripan bentuk juga sempat mengemuka. Lady Gaga pernah menggunakan kostum “gametophyte” pada Grammy Awards 2012 yang kemungkinan mirip dengan bentuk tanaman pakis yang baru ditemukan tersebut.

Wow, benarkah Lady Gaga sehebat itu? Perempuan yang bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini lahir di New York 26 tahun yang lalu. Tepatnya 28 Maret 1986. Musikalitasnya sangat kental dipengaruhi oleh banyak tokoh di dunia musik yang terkenal pada jamannya. Sebut saja Madonna, Michael Jackson, Andy Warhol dan David Bowie. Masih banyak artis tenar lain yang turut mempengaruhi musikalitasnya selain nama-nama yang baru disebutkan tadi. Lahir di keluarga sederhana (menurut Gaga sendiri), dengan ia sebagai anak tertua, telah membuat bekerja menjadi suatu hal yang biasa di keluarganya. Ayahnya yang seorang pengusaha internet dan ibunya yang bekerja di bidang telekomunikasi harus bekerja lebih dari 12 jam sehari untuk memenuhi kebutuhan mereka. Keinginan Gaga untuk mendobrak dan keluar dari pakem yang sudah ada mulai terlihat sejak ia bersekolah di salah satu sekolah katolik khusus perempuan di Manhattan. Kalau diceritakan seluruhnya, riwayat hidup Gaga akan sangat panjang. Belum lagi mengenai riwayat Gaga bermusik dan asal-muasal nama Lady Gaga. Wah.. bakal panjang ceritanya bak cerita bersambung atau novel. Tapi boleh lah sedikit tentang riwayat nama Lady Gaga.

Adanya nama Lady Gaga tak lepas dari peran Rob Fusari seorang produser yang turut mendongkrak karir Lady Gaga. Ketika itu SG Band (Stefani Germanotta Band), band-nya Lady Gaga mulai meredup dan akhirnya harus bubar. Hal ini membuat Gaga harus berkelana sendiri sebagai penyanyi lepas. Saat itu kebetulan Rob sedang mencari seorang vokalis perempuan, dan didapatilah Gaga (waktu itu Stefani). Setiap proses rekaman berlangsung, selama mereka bertemu, lagi Radio Gaga-nya Queen selalu berkumandang mengawali proses rekaman. Suatu kali, mereka sedang berpikir mengenai nama panggung apa yang pas untuk Stefani. Rob kemudian menges-em-es Gaga. Maksud Rob waktu itu ingin mengetikkan kata Radio Gaga namun akibat kecanggihan teknologi sms dengan predictive text maka yang keluar adalah Lady (bukan Radio) Gaga. Begitulah kira-kira sejarah namanya.

Lalu apa yang menarik disimak dari seorang Lady Gaga?

Tidak hanya berkarir di musik, Gaga memberikan cukup banyak uang dan waktu dalam berbagai kesempatan acara amal. Walau sempat menolak menyanyikan satu single dalam album “We are the World 25” untuk membantu korban gempa bumi di Haiti, Gaga mendonasikan hasil konsernya (kurang lebih sebesar USD 500,000) di Radio City Music Hall tanggal 24 Januari 2010 untuk membantu proses rekonstruksi atau pembangunan kembali fasilitas umum yang hancur akibat gempa di Haiti tersebut.

Ketika gempa dan tsunami melanda Jepang di tahun 2011 (11 Maret), Gaga menggandeng salah satu perusahaan untuk membuat gelang yang ia desain bersama perusahaan tersebut. Semua hasil penjualan gelang tersebut didonasikan untuk kebutuhan relief mengatasi dampak akibat gempa dan tsunami tersebut. Tanggal 29 Maret 2011 (cuma 18 hari setelah bencana itu), penjualan gelang Gaga tersebut telah mencapai USD 1,5 juta. Wow!

Selain itu, untuk mendukung para korban bencana gempa dan tsunami di Jepang ini, Gaga juga aktif mendukung pendanaan untuk Palang Merah Jepang dengan penampilannya di MTV Japan’s Charity Show.

Di bidang HIV dan AIDS, Gaga dan rekannya Cyndi Lauper bergabung membentuk MAC Cosmetics yang menelurkan Viva Glam lipstick dan lipgloss. Semua hasil penjualannya ditujukan untuk program pencegahan HIV dan AIDS di seluruh dunia. Sekitar USD 202 juta telah berhasil didapatkan untuk membantu program pencegahan HIV dan AIDS di seluruh dunia.

Image

Gaga berpidato dalam National Equality March 2009 (Sumber: Wikipedia)

Ada juga satu organisasi juga yang didirikan oleh Gaga untuk pemberdayaan orang muda. Namanya Born This Way Foundation (BTWF). Organisasi ini bergerak untuk mengatasi isu rendahnya percaya diri di kalangan orang muda, isu bullying, isu mentoring, isu keberadaan orang muda, hingga isu seputar pengembangan karir orang muda. Organisasi ini bekerjasama dengan banyak pihak untuk mewujudkan berbagai program. Di antaranya adalah program “kembali ke sekolah” dan “Born Brave” yang ditujukan untuk mengatasi bullying yang sering terjadi di sekolah.

Gaga juga dikenal anti undang-undang keimigrasian yang membatasi orang Meksiko untuk menyeberang ke Amerika via Arizona. Ia juga dikenal sebagai aktifis yang membela hak-hak LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender). Bahkan Gaga secara khusus mendedikasikan satu lagu “Poker Face” yang menceritakan kehidupan biseksualnya. Pada MTV Music Awards tahun 2010, Gaga menggunakan gaun yang cukup fenomenal yaitu gaun yang terbuat dari daging. Walau sempat mendapat komentar tidak enak dari PETA, Gaga lebih ingin menyatakan bahwa pakaian dari daging yang dipakainya saat itu sebagai pernyataan atas hak-hak universal seorang manusia dengan fokus pada komunitas LGBT. “Kalau kita tidak lagi mau berdiri atas apa yang kita percayai, dan tidak mau memperjuangkan hak-hak kita, suatu saat hak yang kita punyai hanyalah sebatas daging yang menutupi tulang-tulang kita”, begitu kata Gaga. Ada benarnya juga ya?

Dengan segudang peran penting Lady Gaga di berbagai aktifitas sosial jadi membuat saya bertanya-tanya, bisa kah saya paling tidak melakukan hal yang sama dengan Lady Gaga? Maksud saya ngga lantas ikut-ikutan pakai baju aneh, jadi biseksual dan jadi penyanyi lho! Tapi lebih banyak berperan untuk lingkungan hidup, pencegahan HIV dan AIDS,  kepentingan kaum marjinal, dan banyak hal positif lainnya.

Rasanya, kalau memikirkan banyak hal positif yang telah dilakukan Lady Gaga, saya jadinya kepingin deh ikut disebut sebagai Little Monster!

Referensi: Wikipedia

Nikmatnya Hidangan Bakar Batu Wamena

Para lelaki mempersiapkan “bakar batu” (dok. pribadi)

Tinggal menetap selama 6 tahun (sejak tahun 2006) di Wamena Papua sebelum akhirnya pindah ke Surabaya membuat saya merindu satu masakan khas Wamena. Namanya bakar batu. Sebenarnya saya masih agak bingung apa ini bisa disebut jenis masakan atau teknik memasak. Yang pasti kami biasa menyebutnya “makan bakar batu” ketika masih di Wamena.

Apa itu “bakar batu”? Bakar batu ialah masakan yang dibuat dengan menggunakan batu panas. Batu panas inilah yang sebenarnya menjadi asal nama dari “makan bakar batu” ini. Batu-batu dikumpulkan dalam satu petak. Kemudian dibakar menggunakan kayu api selama beberapa jam. Hasilnya, ya batu panas tadi. Sambil menunggu batu-batu tersebut panas, biasanya para laki-laki membuat lubang di tanah dengan diameter sekitar setengah meter atau lebih (kadang bisa sampai satu meter, tergantung berapa banyak bahan yang akan dimasak) dan kedalaman setengah meter atau lebih juga. Lubang-lubang tersebut kemudian dilapisi dengan rumput atau alang-alang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sambil menunggu batu-batu panas juga, dipersiapkan segala bahan yang akan dimasukkan ke dalam lubang bersama dengan batu-batu panas. Bahan-bahan yang dipersiapkan biasanya adalah daging (biasanya masyarakat Wamena menggunakan daging babi, ayam, atau kelinci), sayur-sayuran (biasanya daun hipere/ daun ubi jalar) segala jenis, hipere/ ubi jalar, dan kalau ada ditambah dengan jagung. Dengan perkembangan jaman, kadangkala di beberapa daerah bisa ditemukan juga ada tambahan ikan (ikan mujair atau ikan mas) tergantung ketersediaan di wilayah tersebut.

Mempersiapkan “bakar batu” (dok. pribadi)

Setelah semua bahan siap dan batu-batu sudah panas, kaum lelaki akan memindahkan satu per satu batu-batu panas ke dalam lubang yang telah disiapkan. Batu-batu panas dimasukkan ke dalam lubang yang telah dilapisi alang-alang. Kemudian dilapisi lagi dengan sayur-sayuran, kemudian daging-dagingan biasanya menempati tempat paling bawah, diselingi dengan hipere, kemudian dilapisi lagi dengan sayuran, batu-batu panas lagi, dilapisi lagi dengan sayuran, diselingi lagi dengan hipere , jagung, dan sayuran lagi, begitu seterusnya hingga terbentuk gunungan yang akhirnya ditutupi alang-alang pada bagian akhirnya. Di beberapa tempat yang sudah dekat kota biasanya dilapisi lagi dengan terpal pada bagian akhirnya. Terpal menahan panas untuk tetap di dalam sehingga mempercepat proses kematangan bahan-bahan yang ada. Proses memasak yang dulu bisa sampai 4 – 5 jam bisa dipersingkat menjadi 2 -3 jam dengan bantuan terpal ini.

Bakar batu pada awal sejarahnya merupakan bagian ritual adat untuk merayakan hal-hal seperti kelahiran, kematian, pembuatan honai (rumah khas Wamena), mengumpulkan orang untuk bersama-sama membuka kebun baru, dan hal lain yang berhubungan dengan kehidupan dan penghidupan di satu osili (semacam kampong kecil). Dengan perkembangan jaman, bakar batu tak hanya dilakukan untuk hal-hal tersebut tetapi menjadi meluas. Bakar batu sering dilakukan dalam banyak acara lain selain ritual adat. Bahkan ketika pemilihan legislative (anggota dewan) dan executive (kepala daerah) beberapa waktu lalu, bakar batu menjadi sarana yang cukup ampuh dalam “menyedot” massa untuk kampanye.

Terlepas dari untuk apa tujuan bakar batu itu, yang pasti saya sangat menggemarinya. Saya masih ingat betapa empuknya ubi jalar yang matang hingga ke dalam walaupun ukurannya cukup besar (ubi jalar di Wamena bisa berdiameter 20 cm atau bahkan lebih), betapa renyahnya daging ayam bak dimasak dengan teknik presto “tulang lunak”, dan nikmatnya sambal dabu-dabu sebagai pelengkap penambah kenikmatan menyantap bakar batu. Untuk sambal dabu-dabu ini, ada karena pengaruh pendatang karena jika kita menyantap bakar batu di daerah yang benar-benar pedalaman maka kita tak akan menemukan adanya sambal apalagi sambal dabu-dabu. Dengan bakar batu ternyata semua kandungan nutrisi dalam bahan-bahannya tertahan tetap dalam bahan-bahan tersebut. Kalau ubi direbus misalnya, ada zat yang terlarut dalam air. Jika dibakar atau dimasak dengan oven, biasanya bagian luarnya gosong sementara bagian dalam belum matang. Bakar batu membuat ubi jalar sebesar apapun matang hingga ke dalam. Batu-batu panas memasak semua bahan perlahan-lahan hingga matang seluruhnya. Proses mematangkan ini biasanya memakan waktu cukup lama, bisa 2 hingga 3 jam semenjak semua bahan dimasukkan ke dalam lubang.

Coba kita perhatikan kandungan nutrisi ubi jalar ini yang tetap dipertahankan dalam hidangan bakar batu: (per 100 gram) protein 1,8 gram, lemak 0,7 gram, karbohidrat 27,9 gram, mineral 49 mg, yang tak kalah penting adalah kandungan vitamin A (retinol) sebesar 2000 mcg dan vitamin C sekitar 20 mg serta tidak mengandung kolesterol.

Dengan kandungan nutrisi sedemikian, ubi jalar dipercaya bisa membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, anti radang, membantu penyembuhan bronchitis dan arthritis, serta baik untuk penderita diabetes dan sering digunakan dalam program penambahan berat badan.

Daging sendiri, entah jenis daging mana yang digunakan dalam hidangan bakar batu adalah sumber protein hewani bermutu tinggi yang perlu dikonsumsi oleh setiap orang. Jika kita kebetulan mendapatkan bakar batu dengan menggunakan daging kelinci maka itu jauh lebih baik. Daging kelinci berserat halus dan mempunyai warna sedikit pucat sehingga dapat dikelompokkan dalam golongan daging berwarna putih seperti daging ayam. Daging putih mempunyai kadar lemak rendah dan glikogen yang tinggi. Selain itu daging kelinci mempunyai kandungan kolesterol dan natrium yang rendah sehingga aman dikonsumsi oleh orang berpenyakit jantung, usia lanjut, dan mereka yang mempunyai masalah dengan berat badan. Selain itu ada manfaat lain daging kelinci, antara lain: menurunkan kolesterol, meningkatkan kesuburan, dan bisa untuk membantu penderita asma.

Menikmati hidangan “bakar batu” (dok. pribadi). Penulis nomor dua dari kanan bersama istri dan teman-teman.

Wah cerita terus nih..kapan makannya? Saya teringat waktu itu, setelah lama menunggu (sekitar 3 jam) akhirnya saya dan teman-teman disuguhi hidangan bakar batu (lihat gambar). Kepingin mencoba? Datanglah ke Wamena (sekitar awal Agustus setiap tahunnya ada Festival Lembah Baliem yang pasti ada bakar batunya) dan buktikan sendiri!

HUTANKU SEKOLAHKU – Menyemai model Sekolah Hijau di Kecamatan Balai Kabupaten Sanggau

“Kalau melihat seperti ini, saya rasanya ingin hidup seratus tahun lagi, untuk mewujudkan sekolah hijau dan melihat hasilnya, seperti apa anak-anak yang kita didik bertumpu pada alam dan kearifan budaya. Baru kali ini saya disadarkan bahwa lingkungan sekitar ternyata  guru dan pembelajaran itu sendiri.”

Kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Hijau

Itulah ungkapan pencerahan yang disampaikan dengan berapi-api oleh Bapak Murdiono, Ama Pd., salah seorang pengawas sekolah yang telah mengabdi puluhan tahun di Kecamatan Balai. Memang dunia terus berubah, kalau kita menyiapkan anak-anak kita sebagaimana kita disiapkan dulu, maka anak-anak kita tidak akan dapat menghadapi berbagai tantangan perubahan yang terus berderap tak terkendali saat ini. Untuk itu didiklah anak-anak sesuai dengan tantangan  jamannya. Dulu Borneo identik dengan hutan, namun kini semua telah berubah. Eksploitasi sumber daya alam, pembabatan hutan, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim menjadi tantangan besar pembangunan daerah Kalimantan. Bagaimana menyiapkan anak-anak menjadi bagian pemecahan persoalan-persoalan di wilayah tempat mereka tinggal? Bagaimana memampukan anak-anak menjadi penjaga tanah tumpah darahnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi topik diskusi penting dalam pelatihan pengembangan model sekolah hijau di Kecamatan Balai Batang Tarang Kabupaten Sanggau. Pelatihan tersebut diselenggarakan atas kerjasama Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Balai Kabupaten Sanggau, World Vision Indonesia – ADP Sanggau dan TRUE (Teacher Resources Empowerment) Bogor sebagai fasilitator teknis. Sebanyak 50 guru terlibat secara aktif dalam pelatihan yang dikemas secara interkatif, kreatif dan menyenangkan. Adapun tujuan dari pelatihan adalah untuk membangun pencerahan bersama tentang pendidikan sejati, guru sejati untuk membimbing generasi paripurna.

Apa itu Pendidikan sejati?

Pendidikan yang dapat menyiapkan anak untuk dapat menghadapi hidup dan melestarikan kehidupan di muka bumi. Pendidikan haruslah merupakan proses yang dapat membantu anak-anak membangun pribadi yang merdeka dan mandiri, memiliki pilihan-pilihan, memiliki kepekaan terhadap masalah di lingkungan sosialnya dan dapat menciptakan kreatifitas – menemukan sesuatu yang baru yang dibutuhkan oleh jamannya. Pendidikan menjadi lebih fungsional karena berdialog dengan keseharian atau lingkungan di mana anak tinggal. Anak difasilitasi  untuk  mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan praktek bagaimana mengelola lingkungan sekitarnya. Apa yang dipelajari di sekolah ‘nyambung’ dengan persoalan-persoalan hidup di komunitasnya (pendidikan kontekstual).

Bagaimana Pendidikan Kontekstual di Kecamatan Balai?

Melalui sebuah kajian dan dialog yang dibangun bersama guru, komite dan Dinas Pendidikan setempat, isu-isu kontekstual yang ingin diintegrasikan dalam proses pendidikan di sekolah adalah isu pelestarian lingkungan alam. Bagiamana proses integrasi ini bisa dilaksanakan? Pendidikan berwawasan pelestarian lingkungan alam atau sekolah hijau diterjemahkan dalam istilah yang lebih dekat dengan masyarakat dan anak-anak, yaitu “Hutanku Sekolahku”. Berdasarkan penggalian bersama ada 3 elemen penting yang akan diintegrasikan dalam Pengembangan Model Sekolah Hijau, yaitu: (1) Metode pembelajaran hijau, (2) Lingkungan pembelajaran hijau dan (3) Karakter harmoni hijau.

Metode pembelajaran hijau menekankan pada pentingnya mengintegrasikan potensi alam dan budaya lokal ke dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan pelatihan tahap II ini, para guru diajak untuk membuat pembelajaran tematik dengan menggunakan konteks dan budaya lokal, serta membuat media belajar dari bahan-bahan alam dan barang bekas. Peserta juga diberikan inspirasi dan diajak untuk melakukan kegiatan di kebun dan lingkungan sekitar sekolah.

Untuk mendukung metode pembelajaran hijau diperlukan penataan lingkungan pembelajaran yang hijau. Pada kegiatan pelatihan peserta juga diajak berdiskusi dan merancang tata ruang lingkungan sekolah sesuai zona dan fungsi yang lebih efektif. Gagasan besarnya adalah menjadikan lingkungan sekolah sebagai kebun raya mini sebagai tempat konservasi plasma nutfah tumbuhan asli Kalimantan yang sekarang terancam punah akibat pengrusakan hutan.

Pembelajaran di sekolah hijau juga tidak sekedar menekankan pada pencapaian kompetensi akademis semata. Penanaman sikap dan karakter positif juga menjadi elemen penting yang perlu dikembangkan. Dalam pelatihan Sekolah Hijau, penanaman karakter menjadi elemen ketiga, yakni karakter harmoni hijau. Harmoni hijau meliputi harmoni diri, harmoni sesama dan harmoni alam.

Basis dari Sekolah Hijau – Hutanku Sekolahku ini adalah pendidikan yang bertumpu pada pemberdayaan dan pemanfaatan potensi lingkungan sekitar baik lingkungan alam maupun budaya/ kearifan lokal baik dalam hal metode, ragam kegiatan pembelajaran dan media belajar. Tema-tema kehidupan masyarakat sehari-hari dihadirkan menjadi tema-tema belajar di sekolah. Semua itu agar anak-anak memiliki kesadaran, kepekaan dan ketrampilan untuk mengelola dan melestarikan lingkungan hidup baik untuk masa sekarang maupun kelak ketika mereka telah dewasa.

Apakah ini keluar dari strandar yang ada?

Tidak! Integrasi Sekolah Hijau dalam struktur pendidikan justru memperkuat pendekatan MBS-PAKEM yang telah dikembangkan sebelumnya dan mengisi kontekstualisasi yang telah dimandatkan oleh otonomi pendidikan melalui KTSP. Selain itu dalam RPJM kemendiknas 2010-2014 juga tertulis salah satu poin indikator – terciptanya model pembaharuan pendidikan. Sekolahku Hutanku bisa menjadi poin inovasi pendidikan yang dikontribusikan oleh sekolah dari Kalimantan Barat untuk pembaharuan pendidikan di Indonesia.

SDN 20 Batang Tarang dan SDN 10 Padikaye di Kecamatan Balai disepakati menjadi sekolah yang didampingi untuk menjadi sekolah model, sebagai laboratorium pembelajaran bagi sekolah lain. Pendampingan sekolah model dilakukan secara bertahap, mulai dari kajian, open mind, penemuan elemen-elemen sekolah hijau, pelatihan guru, pendampingan langsung ke sekolah, monitoring & refleksi. Pelatihan  kali ini merupakan pendampingan tahap 2, di mana para guru diajak untuk bersama-sama menstrukturkan elemen-elemen sekolah hijau dalam perencanaan dan ragam aktifitas pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Optimis

Inisiatif ini didukung oleh berabagai elemen baik masyarakat maupun pemerintah setempat. Dalam sambutannya Bpk. Daniel, SPd. Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Balai mengungkapkan harapannya agar 2 sekolah yang telah ditunjuk dapat menjadi duta sekolah hijau untuk Kecamatan Balai dan wilayah yang lebih luas lagi. Bpk. Amron Gultom, STP. Manajer ADP Sanggau Wahana Visi Indonesia – mitra World Vision Indonesia menegaskan harapannya agar inisiatif pengarusutamaan pelestarian lingkungan dalam pendidikan dapat benar-benar terwujud karena pendidikan merupakan wahana strategis untuk mengembalikan berbagai interaksi dan kearifan masyarakat terkait dengan alam yang makin tergerus oleh perubahan jaman. Dan terlebih-lebih bagaimana memampukan dan melibatkan anak-anak sebagai agen perubahan yang baik. Selain berbagai dukungan tersebut, dalam pelatihan tahap 1 yang diselenggarakan pada Bulan September yang lalu, perwakilan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sanggau memberikan dukungan yang sangat positif. Ayo adep sama-sama memaju gerakan sekolah hijau – Hutanku Sekolahku!

(Cerita oleh: Susana Srini & Agus Gusnul)

Waspadai Gejala Awal Waham Kebesaran!

Mister J uring-uringan, sebagai salah satu manager proyek Mister J merasa tersinggung ketika tidak dilibatkan dalam diskusi via email tentang suatu proyek pendidikan. Mister J beranggapan sebagai mantan seorang spesialis pendidikan Mister J harus dilibatkan dalam semua diskusi tentang proyek pendidikan. Sebagai teman Mister J, saya waktu itu masih menganggap bahwa ini adalah hal yang wajar. Yah.. Mister J juga manusia biasa yang mungkin masih dalam proses menuju kedewasaannya.

Lambat laun ternyata saya kena batunya juga. Waktu itu saya mendapatkan informasi tentang sebuah lomba di internet yaitu lomba menulis yang diselenggarakan oleh salah satu instansi pemerintah. Saya pikir ini adalah kesempatan yang baik. Siapa tahu dengan mengikuti lomba menulis ini, pemerintah mendapat masukan yang baik dari masyarakat dan kemudian menerapkannya demi menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik. Karena menurut saya lomba ini baik maka saya informasikan via email ke beberapa rekan manager termasuk Mister J. Ternyata beberapa saat kemudian datanglah balasan email dari Mister J. Kalimatnya garang. Saya dianjurkan untuk berhati-hati dan tidak mengikuti lomba ini. Menurut Mister J tidak baik kalau perusahaan dimana kami bernaung mengikuti lomba menulis ini. Kalau mengikuti lomba menulis ini berarti kita setuju dengan ideologi politik bangsa ini yang jelas-jelas tidak sesuai dengan ideologi perusahaan. Begitu kata Mister J. Karena balasan Mister J yang cepat tersebut, saya berasumsi bahwa Mister J tidak membaca lampiran email yang saya kirimkan. Asumsi saya kalau Mister J membaca lampiran email yang saya kirimkan maka ia akan menemukan bahwa lomba ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik. Ini semata-mata lomba menulis biasa yang bertujuan memberikan masukan ke pemerintah. Kemudian emailnya saya balas. Saya mencoba menanyakan ke Mister J apakah ia sudah membaca lampiran email tersebut. Saya terangkan asumsi saya tadi dengan lebih terperinci dengan bahasa yang cukup sederhana. Ternyata tak berapa lama, datang lagi email Mister J. Isinya, “Justru karena saya sudah membaca lampirannya maka saya sarankan untuk tidak mengikuti lomba ini” begitu tulisannya dalam email. Karena tidak ingin memperpanjang, saya hanya menjawab “terimakasih atas sarannya” dan akhirnya tidak ada jawaban email lagi dari Mister J.

Dalam keseharian kami bertegur sapa, ternyata saya makin menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam tutur kata Mister J. Dalam setiap diskusi ia berusaha memberikan kesan merendah namun ternyata kalau kita simak baik-baik tutur katanya, ia lebih banyak berkata-kata tentang dirinya sendiri. Ia dulu beginilah, ia dulu begitulah, ia dengan kesuksesannya sering diundang bertemu dengan gubernur, dan lain sebagainya. Intinya, semua tentang apa yang ia lakukan yang telah berhasil di masa lampau. Beberapa kali saya mencoba mengecek kebenarannya lewat rekan-rekannya yang dulu pernah bekerja sama dengan dia namun ternyata informasi yang saya dapatkan justru bertolak belakang dengan kenyataan yang coba disampaikan oleh Mister J. Akhirnya sebagai seseorang dengan latar belakang medis, saya mencoba menarik kesimpulan tentang situasi Mister J ini. Kesimpulan saya, jangan-jangan ini adalah gejala awal dirinya mengidap apa yang disebut dengan Waham Kebesaran. Apa itu Waham? Beberapa definisi berikut mungkin bisa membantu. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya (Maramis, W.F, 1995). Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan dalam kenyataan (Harold I, 1998). Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika (Ann Isaac, 2004). Kata-kata yang sering disampaikan oleh seseorang secara berulang-ulang yang tidak sesuai dengan logika, itulah yang disebut dengan Isi Waham. Isi waham sangat bergantung pada latar belakang pendidikan dan sosiokultural seseorang. Waham dikelompokkan menurut tema utamanya. Waham kebesaran (grandeur delusion) adalah suatu konsep pemikiran yang berlebihan tentang kekuatan, kepandaian, kekayaan dan identitas seseorang.

Kemudian saya mencoba menelusuri faktor-faktor apa yang bisa menyebabkan seseorang itu menderita gejala awal Waham. Ternyata ada faktor predisposisi. Faktor predisposisi ini terdiri dari faktor biologis, faktor genetik, faktor psikologis, dan sosial budaya. Faktor biologis menyangkut apakah ada gangguan perkembangan otak, apakah ada gangguan tumbuh kembang, atau apakah orang tersebut dilahirkan kembar (monozigot atau kembar dua telur). Faktor genetik adalah faktor yang diturunkan yaitu apakah ada riwayat skizofrenia dalam keluarga. Faktor psikologis terdiri dari: ibu/ pengasuh yang over protektif, dingin, dan tidak sensitif. Selain itu adanya hubungan dengan ayah yang tidak dekat atau kurang perhatian atau bisa juga mendapatkan perhatian yang berlebihan dari sang ayah. Sedangkan faktor sosial budaya terdiri dari: stress yang menumpuk, hubungan sosial yang tidak harmonis, dan kemiskinan. Selain faktor di atas, juga ada faktor lainnya seperti faktor presipitasi yang di dalamnya berisi faktor biokimia dan psikologi. Faktor biokimia memandang ada kaitannya Waham bisa muncul karena dipacu oleh zat kimia tertentu, sedangkan faktor psikologis diduga berkaitan dengan kecemasan yang ekstrim yang disertai dengan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah.

Wah..kira-kira faktor apa yang mempengaruhi Mister J ya?

Saya mencoba mendalami masa lalu Mister J. Tepatnya, masa kecilnya. Mister J ini dikenal takut sekali dengan yang namanya ikan. Konon, menurut penuturan Mister J, dirinya pernah direndam di kolam ikan oleh ibunya. Sampai sekarang Mister J tidak berani makan ikan. Saya sendiri masih agak kabur soal apa alasan ibunya merendam Mister J kecil dalam kolam ikan tersebut. Ketika ditanyakan ke Mister J, jawabannya selalu berubah-ubah. Oh iya, Mister J juga kehilangan figur ayah pada masa remajanya. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan munculnya gejala Waham Kebesaran pada Mister J. Semakin saya telusuri, saya semakin yakin bahwa apa yang terjadi pada Mister J mungkin baru tahap awal dari sebuah Waham Kebesaran. Bisa saja ini berlanjut sampai ke level skizofrenia atau bisa dicegah jika ada pihak-pihak yang bisa membantu Mister J menyadari realitanya.

Terus bagaimana cara membantu Mister J ini? Karena ini masih gejala, caranya gampang saja. Pertama, bangunlah hubungan saling percaya. Walau ini sulit tapi worth to try. Dengan saling percaya tentu makin lama akan makin banyak sharing yang kita dengarkan darinya. Dalam sharing tersebut tentu ada beberapa yang merupakan Isi Waham namun tidak apa. Dengarkan saja sampai selesai. Jangan berkomentar yang menolak ataupun membenarkan isi waham tersebut. Kedua, bantu dia mengidentifikasi kemampuan nyata yang ia miliki. Beri pujian pada kemampuannya yang realistik. Diskusikan kemampuannya ini dengan berhati-hati pada kemungkinan munculnya isi waham. Berikan pujian pada tindakan-tindakan positif atau prestasi nyata yang telah ia lakukan bukan pada apa yang ia bayangkan telah ia lakukan (isi waham). Dengan terus menerus menerapkan cara ini mudah-mudahan apa yang tadinya hanya gejala ini tidak akan sampai pada pada tahap lanjut menjadi Waham Kebesaran hingga skizofrenia. Ini yang sekarang saya coba terapkan dalam interaksi saya dengan Mister J.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering bertemu dengan orang-orang seperti Mister J. Atau mari kita coba selidiki dulu tabiat kita dalam berinteraksi dengan sesama. Apakah ada gejala-gejala seperti Mister J yang telah kita tunjukkan selama ini? Kalau ada mari lekas-lekas berbenah dan mengambil langkah mengatasinya. Yang jelas, ayo sama-sama kita waspadai gejala-gejalanya dan sebisa mungkin mengatasinya sebelum merugikan diri sendiri dan orang lain.

Rayap-Rayap Pernikahan

Coptotermes dan Sedoterme, adalah dua jenis rayap yang paling cepat menyerang bangunan. Akhir Maret 2006, binatang kecil dari ordo Isoptera ini mendadak ngetop. Enggak tanggung-tanggung, ia ketahuan merusak Istana Negara dan Istana Merdeka!

Pejabat negara ikutan kebakaran jenggot. Menteri Pekerjaan Umum jadi punya tugas tambahan. Para pakar rayap Indonesia, ikut sibuk. Wajar saja, karena rayap ternyata bisa membahayakan keselamatan Presiden Yudhoyono. Layaknya teroris saja!

Di Indonesia, masalah rayap bukan hal baru. Para pakar mengklaim 50 persen gedung di Jakarta telah diserang rayap. Tiap tahun kerugian mencapai sekitar Rp 238 miliar. Jumlah yang fantastis untuk ukuran hewan seimut rayap. Gerogotan rayap memang bisa membahayakan. Pelan tapi pasti, bangunan semegah apa pun, bisa hancur gara-gara rayap. Rayap sanggup menembus penghalang fisik. Bahkan, gedung dengan struktur yang sangat kokoh pun tidak bebas rayap. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan melakukan pencegahan dan perawatan. Harus ada antisipasi. Demikian juga dengan hidup pernikahan. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas cinta yang menggebu, di atas komitmen yang begitu kuat sekalipun, tidak lantas imun dari “rayap-rayap”. Maka, adalah baik dan perlu kita mengantisipasinya. Minimal mengenalinya.

Berikut beberapa “rayap” berbahaya yang bisa menggerogoti dan menghancurkan hidup pernikahan kita.

Pertama, harapan yang tidak realistis. Seperti cinta romantis ala dongeng pengantar tidur, Cinderella, Putri Salju, Beauty and the Beast, yang selalu berakhir indah. Seakan-akan pernikahan isinya melulu kebahagiaan. Tanpa masalah. Hanya ada keajaiban. Penuh bunga kemesraan yang tidak pernah berlalu.

Padahal, jelas tidak begitu kan. Pernikahan tidak melulu berisi bunga. Kadang juga berisi kerikil. Atau, kalau pun berisi bunga; bunga bangkai berduri. Jadi sudah bangkai, berduri pula. Pernikahan juga tidak selalu berselimut kemesraan. Kadang juga ada kebosanan, tangisan, keruwetan.

Kedua, berkurangnya sikap saling mengerti. Kesalahan kecil, bisa bikin ledakan emosi mahahebat. Herannya, waktu pacaran pengertian bisa terjembatani begitu mulus. Berjalan dengan begitu kuat. Tapi setelah menikah, tingkat pengertian kerap bagai terjun bebas ke titik nadir. Toleransi menjadi rendah sesudah menikah.

Waktu pacaran, kakinya doi terantuk batu saja langsung heboh. Seolah mendadak ada gempa bumi. Kaki doi dipijit, diusap-usap, disayang-sayang. Keadaan bisa terbalik 180 derajat setelah menikah. “Matamu ke mana sih?”

Ketiga, berkurangnya tekad untuk mempertahankan pernikahan. Menganggap pernikahan seolah sesuatu yang sekali pakai lalu buang. Berantem dikit, pengen cerai. Kesal dikit, bilangnya, “Sudah deh, kembalikan aku ke rumah orang tuaku!” Bila badai mengguncang biduk rumah tangga, kita lekas putus asa. Enggak punya daya juang untuk mempertahankan. Gampang menyerah. Lalu bagaimana kita menangani “rayap-rayap” penggeregot itu, sehingga pernikahan kita tetap kokoh kuat?

Yaitu, dengan membangun sikap positif. Mikha 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan
hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Konteks ayat ini adalah umat Tuhan yang sudah terjebak dalam ibadah yang legalistis. Tuhan ingin umat-Nya itu tidak hanya terpaku pada aturan-aturan formal keagamaan, tapi juga memperhatikan hidup sehari-hari. Sebab ibadah kepada Tuhan tidak hanya soal kultis, tapi juga soal etis. Namun, ayat ini juga bisa dikenakan dalam konteks hidup pernikahan, khususnya dalam “membasmi rayap-rayap penggerogot” tadi. Adil, mencintai kesetiaan, dan rendah hati.  Adil artinya, apa yang kita ingin pasangan kita lakukan kepada kita, lakukan lebih dahulu kepadanya. Kalau kita ingin pasangan kita menghargai kita, hargailah ia lebih dulu. Kalau kita ingin pasangan
kita bersikap baik kepada kita, bersikap baiklah lebih dulu kepada ia, dan seterusnya.

Mencintai kesetiaan, teguh pada janji, komit dengan tanggung jawab. Enggak suka nyeleweng, lalu cari-cari alasan pembenaran. Setia kepada sesama, setia kepada Tuhan. Kesetian harus dimulai dari
perkara-perkara sederhana.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
(Lukas 16:10). Jadi jangan harap kita bisa setia dalam hidup pernikahan kita, kalau janji mau nonton saja, misalnya, kerap diingkari. Rendah hati tumbuh dari kesadaran bahwa kita membutuhkan pasangan
kita. Kita ini seumpama burung dengan satu sayap. Pasangan kita punya sebelah sayap yang lain. Kita hanya bisa terbang kalau menggunakan kedua sayap tersebut.  Rendah hati juga berarti, kesediaan untuk meminta maaf, kalau salah. Kesediaan memberi maaf dan memahami bahwa pasangan kita pun bisa khilaf.

Rendah hati juga membuat mulut kita ringan dan tulus mengucapkan terima kasih dan memuji.

Renungan oleh Ayub Yahya, diposting ulang karena artikel ini bagus sekali.